Masyarakat Tradisional Dan Suku Pedalaman

Masyarakat Tradisional

Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang menjunjung tinggi leluhurnya dan memegang teguh adat istiadatnya. Pada umumnya masyarakat tradisional adalah warga yang memiliki pandangan kalau melaksanakan. Warisan nenek moyangnya yang berupa nilai-nilai hidup, norma, harapan, cita-cita, merupakan kewajiban, kebutuhan, dan kebanggaan. Melaksanakan tradisi leluhur berarti menjaga keharmonisan masyarakat, namun sebaliknya melanggar tradisi berarti dapat merusak keharmonisan masyarakat.

Pengertian Masyarakat Dan Tradisional

Tradisional berasal dari kata tradisi yang dengan cara etimologis istilah ini berasal dari kata latin traditum. Yang maksudnya diteruskan (transmitted) dari era kemudian ke era saat ini. Sedangkan Masyarakat( sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah. Sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata masyarakat sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan- hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, sebutan masyarakat dipakai untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Memahami Apa Itu Masyarakat Tradisional

Masyarakat tradisional cenderung bersikap tertutup dan menaruh curiga terhadap unsur- unsur budaya asing. Karena dianggap dapat merusak keharmonisan hubungan diantara sesama warga masyarakat. Adanya pelanggaran terhadap nilai dan norma yang berlaku akan mendapat. Respon keras dari anggota masyarakat karena kontrol sosial sesama warga masyarakatnya sangat kokoh. Masyarakat tradisional cenderung bersikap primordial sehingga pabila terjadi pelanggaran terhadap tradisi hendak mendapat sanksi dan pengucilan sempai dengan pengusiran. Sanksi bagi masyarakat tradisional tidak hanya berupa hukuman fisik, tetapi pula ganjaran batin karena rasa ketergantungan antara anggota masyarakat kuat.

Masyarakat tradisional pada umumnya tinggal di daerah yang terisolir sehingga. Masyarakatnya dapat mempertahankan kebudayaannya dari pengaruh budaya luar. Seperti tinggal di desa-desa sehingga ada yang menganggap masyarakat tradisional identik dengan masyarakat desa. Pemikiran ini tidak seluruhnya benar karena dewasa ini banyak masyarakat. Desa yang telah maju (modern) serta penafsiran dusun menunjuk pada kriteria wilayah, bukan pada sikap semata.

Masyarakat tradisional kadang-kadang diartikan sebagai masyarakat primitif yaitu masyarakat dengan penguasaan teknologi yang masih rendah. Namun kenyataanya masyarakat tradisional seperti di Jepang dan Inggris telah memiliki teknologi. Yang tinggi namun masyarakatnya masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi. Demikian juga beberapa etnis di Indonesia, di satu pihak mereka telah. Hidup dengan teknologi maju (modern) namun dilain pihak mereka masih memegang teguh tradisinya. Jadi ukuran masyarakat tradisional identik dengan masyarakat primitif kurang tepat.

Masyarakat tradisional merupakan suatu ciri masyarakat yang masih melindungi. Tradisi peninggalan nenek moyangnya baik dalam aturan hubungan antara manusia maupun dengan alam sekitarnya yang mengutamakan keselarasan dan keharmonisan.

Kelompok Masyarakat Tradisional

Van Maydell, dkk (1989) membedakan masyarakat tradisional atas 2 (dua) kelompok Pemburu (hunters) dan peramu (gatherers) hasil hutan atau juga diistilahkan dengan penghuni hutan (forest dwellers). Para petani di sekitar hutan (forest farmers) yang pada umumnya merupakan penduduk di sekitar hutan.

Baca Juga : Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Legenda Hantuen

Ciri-Ciri Masyarakat Tradisional

Secara garis besar pada umumnya ciri-ciri masyarakat tradisional antara lain. Jumlah anggotanya relatif kecil sehingga hubungan antar warga warga cukup kuat

Masyarakat homogen dilihat dari keturunan, tradisi dan mungkin mata pencahariannya. Memiliki orde (aturan) yang mengikat anggota masyarakatnya (dipatuhi)

Bersikap tertutup dan cenderung curika pada unsur budaya asing. Kehidupan sosial cenderung statis (lambat untuk maju) Mobilitas sosialnya relatif rendah karena mereka sudah puas pada sesuatu yang telah dimilikinya.

Hubungan emosional dengan alam tempat asal usul (kelahirannya) sangat kuat. Dan alam dipandang sebagai sesuatu yang dahsyat dan tak terelakan sehingga manusia harus tunduk kepadanya. Sikap religius sangat kuat yaitu kepatuhan terhadap sesuatu yang menjadi kepercayaan (agama) sangat kuat.

Masyarakat tradisional sejak lama memahami perlunya dan berusaha melindungi lingkungan. Hidupnya yang berupa hutan dan alam sekitarnya melalui barbagai aturan adat tidak tertulis. Peranan sumber daya hutan dalam peningkatan pola pengembangan manfaat perlindungan bagi kesejahteraan masyarakat tradisional.

Mengenal Beberapa Suku Masyarakat Pedalaman Di Indonesia

Suku Togutil-Halmahera

Suku Togutil( atau dikenal juga sebagai Suku Tobelo Dalam) adalah kelompok. Komunitas etnis yang hidup di hutan- hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur- Tukur, Lolobata, Kobekulo. Dan Buli yang termasuk dalam Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Yang perlu diingat, Orang Togutil sendiri tak ingin disebut Togutil karena Togutil bermakna konotatif yang artinya terbelakang. Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan- hutan asli.

Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung. Suku Togutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara dan tengah, menggunakan bahasa Tobelo sama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo.

Orang Togutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing, sementara orang Tobelo penghuni pesisir yang relatif maju. Selain itu fisik orang Togutil, khususnya roman muka dan warna kulit, menunjukkan ciri- ciri Melayu yang lebih kuat daripada orang Tobelo. Ada cerita, orang Togutil itu sebenarnya penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Pada 1915 Pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa Kusuri dan Tobelamo. Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan upaya itu mengalami kegagalan. Dari sini lah rupanya tersebar narasi semacam itu. Namun cerita ini rupanya tidak benar.

Suku Bauzi Atau Baudi-Papua

Suku Bauzi atau orang Baudi merupakan satu dari sekitar 260- an suku asli yang kini mendiami Tanah Papua. Oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat bernama Summer Institute of Linguistics (SIL), suku ini dimasukan dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pun tak ketinggalan memasukan suku Bauzi kedalam daftar 20- an suku terasing yang telah teridentifikasi. Bagaimana tidak, luasnya hutan belantara, pegunungan, lembah, rawa hingga sungai-sungai besar yang berkelok- kelok di sekitar kawasan Mamberamo telah membuat suku ini nyaris tak bersentuhan langsung dengan peradaban modern. Kehidupan keseharian suku ini masih dijalani secara tradisonal.

Menurut sejarah penyebarannya, suku Bauzi berasal dari daerah Waropen utara. Tapi dalam kurun waktu yang lama menyebar ke selatan danau Bira, Noiadi dan tenggara Neao, dua daerah yang terletak di perbukitan Van Rees Mamberamo. Panjang wilayah ini kurang lebih 80 kilometer. Kaum Bauzi bisa menyebar karena memiliki kemampuan berpindah menggunakan perahu menyusuri sungai dan berjalan kaki. Jumlah penduduknya hanya beberapa ribuan jiwa. SIL di tahun 1991 pernah merilis data yang memperlihatkan jumlah orang Bauzi sekitar 1.500 jiwa. Mereka menyebar di bagian utara dan tengah wilayah Mamberamo. Kini jumlah jiwa suku Bauzi bisa dipastikan telah bertambah tiap tahun, meski belum ada data resmi mengenai perkembangan mereka.

Suku Korowai-Papua

Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaann 30 tahun yang lalu. di pedalaman Papua, Indonesia dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah. Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka. Sampai tahun 1970, mereka tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka.

Bahasa mereka termasuk dalam keluarga Awyu- Dumut (Papua tenggara) dan merupakan bagian dari filum Trans- Nugini. Sebuah tata bahasa dan kamus telah diproduksi oleh ahli bahasa misionaris Belanda. Mayoritas klan Korowai tinggal di rumah pohon di wilayah terisolasi mereka.

Suku Anak Dalam Jambi

Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200. 000 orang. Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang meter lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.

Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa serta adat dengan kaum Minangkabau, seperti sistem matrilineal. Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda. Yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30). Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu. Walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses- proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan. Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme kepercayaan akan setan- setan dan dewa- dewa, adat kelahiran, perkawinan, pelaksanaan kematian.

Sekian artikel tentang Masyarakat Tradisional dan Suku Pedalaman semoga bisa. Menaikkan wawasan kita semua mengenai masyarakat tradisional dan. suku pedalaman yang ada di Indonesia. 

Sejarah Zaman Es Dan Mulainya Peradaban Manusia

Zaman Es

Zaman Es Sejak 1.000.000 tahun, sudah terjadi 8 kali zaman es Ice Ages dan 8 kali iklim panas interglacials. Siklusnya dalam 100.000 tahun meliputi 70.000 tahun iklim dingin es, dan 30.000 iklim panas. Pada saat dingin bumi membeku dari kutub utara sampai garis lintang 46 derajat es sangat tebal (2000-5000 meter) dan suhu bumi menurun 15 derajat celcius.

Ketika zaman es, permukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang (menurun 150 – 200 meter), karena banyak air yang membeku di daerah kutub. Ketika itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Indonesia bagian barat menyatu dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu Pulau Papua menyatu dengan Benua Australia (land bridges = jembatan tanah). Daerah dekat khatulistiwa juga terkena perubahan iklim curah hujan menurun, sekitar 50% daratan menjadi gurun. Tiap kali zaman es muncul binatang-binatang dan tanaman yang hidup di bagian bumi utara berpindah ke daerah yang lebih panas ke selatan pada saat es mencair mereka berpindah kembali ke utara.

Semua binatang mamut, bison, reindeer dll. juga berpindah ke selatan, sehingga di selatan menjadi sangat padat dan menyediakan sumber makanan bagi pemburu-pemburu jenis Homo sapiens. Zaman Es Kadang-kadang perburuan begitu intensif sehingga terjadi kepunahan beberapa binatang contohnya Mamot dan Bison.

Jenis-jenis Homo sapiens juga melakukan perpindahan karena mereka mencari makanan dengan cara meramu dan berburu. Walaupun iklim begitu dingin, jenis homo tetap melanjutkan perkembangannya, berkat keterampilan menjaga api dan menjahit pakaian dari kulit-kulit binatang sebagai pelindung dari kedinginan. Mereka melakukan perantauan yang sangat jauh: dari Afrika ke timur (Asia) dan ke utara (Eropa). Di mana pun homo sapiens menetap di situlah secara bertahap mereka akan menyesuaikan diri dengan lingkungan (adaptasi). Dengan demikian terjadilah perbedaan bentuk badan, warna kulit, rambut dan warna iris pada setiap jenis homo sapiens yang menempati tempat yang berbeda.

Memahami Sejarah Mulainya Peradaban Bagi Masyarakat

Zaman Es Pada 50.000 SM Australia dan Pulau Papua sudah dihuni oleh manusia, mereka merantau dari India melalui wilayah Semenanjung Melayu ke daratan yang berada di antara Sumatra dan Kalimantan. Ingat pada saat itu permukaan laut turun 200 meter akibat zaman Es dan penurunan ini menyebabkan laut Natuna dan laut Jawa menjadi daratan dengan hutan-hutan lebat.

Manusia yang menghuni Australia disebut Suku Aborigin dan mereka bertahan hidup di benua Zaman Es itu sebagai peramu dan pemburu dari 50.000 SM sampai tahun 1800 M. Pada tahun itu Australia ditemukan oleh penjajah yang datang dari Inggris. Budaya dan gaya hidup Suku Aborigin amat unik. Dan pada 40.000 SM homo sapiens mulai menetap di Eropa sebagai peramu dan pemburu.

Pada 15.000 SM zaman es bertahap-tahap berhenti. Suhu bumi mulai naik dan kembalilah binatang-binatang dan tanaman ke utara. Mereka diikuti oleh para peramu dan pemburu. Bertahap-tahap permukaan laut dan samudera naik 150-200 meter. Sekali lagi Kepulauan Nusantara (Indonesia) terpisah oleh laut dangkal (150-200 meter).

Pada 13.000 SM manusia sudah bisa melewati Laut Bering, terletak antara Asia Timur Laut dan Benua Amerika Utara, mereka merantau ke Benua Amerika, setelah 3.000 tahun mereka sudah sampai di ujung Amerika Selatan; jalan perantauan mereka jaraknya lebih dari 25.000 km. Pada saat perantauan, banyak jenis binatang begitu jinak karena belum pernah melihat manusia. Dan akhirnya punah akibat perburuan massal.

Kepulauan Pasifik Zaman Es termasuk Selandia Baru mulai dihuni oleh homo sapiens antara tahun 3500 SM sampai 750 M. Hanya Benua Antartika yang belum pernah dihuni manusia. Iklim Antartika terlalu dingin dan tidak ada satupun jenis tanaman yang bisa hidup, kecuali beberapa jenis pinguin (pemakan ikan laut).

Perbandingan Sejarah Dalam Peradaban Masyarakat Sosial

Antara tahun 12.000 SM sampai 10.000 SM ketika iklim menjadi lebih panas dan lebih lembab, jumlah penduduk manusia bertambah cepat. Hutan hutan meluas. Perluasan hutan dan peningkatan jumlah populasi manusia menyebabkan jumlah kelompok-kelompok mamalia besar (bison, mamut dan render) menurun drastis. Manusia terpaksa harus mencari sumber makanan lain. Di beberapa tempat manusia mulai menanam umbi-umbi liar dan rerumputan berbiji besar. Sekitar 10.000 SM pertanian dimulai di Timur Tengah, di wilayah yang amat subur dan memiliki banyak jenis tanaman biji yang dapat ditanam dan dimakan. Secara bertahap manusia mulai bercocok tanam. Selama ribuan tahun manusia hanya menggunakan alat berupa tongkat kayu pada saat menanam biji-bijian.

Sejak tahun 8000 SM mulai dibangun pemukiman-pemukiman petani. Teknik pertanian gandum disebarkan ke Mesir, Afrika, Asia dan Eropa. Pada tahun 7000 SM, padi, gandum dan ketela sudah mulai ditanam di Cina. Dan di Amerika Tengah mulai ditanam jagung, kentang, kacang-kacang dan merica.

Pada masa-masa ini laki-laki dan perempuan memiliki peran dan beban pekerjaan yang sama dalam proses pertanian. Oleh karena itu, pada masa ini tidak ada perbedaan status antara laki-laki dan perempuan, bahkan perempuan dihormati sebagai lambang kesuburan, karena mereka melahirkan anak demi kelangsungan keturunan dalam sebuah kelompok. Buktinya di mana pun di dunia ditemukan arca-arca perempuan hamil (dari 7000 SM – 4000 SM). Menurut pakar antropologi arca-arca ini dipuja pada saat upacara-upacara adat.

Akhirnya hal ini menjadi terbalik ketika manusia sudah menemukan bajak: laki-laki merasa lebih kuat, mengatur semua keperluan rumah tangga dan perempuan tugasnya hanya mengurus anak dan bekerja di dapur. Dan mulailah perselisihan antara laki-laki dan perempuan (persoalan gender/ penindasan terhadap perempuan).

Perkembangan pertanian juga menghasilkan penemuan-penemuan peralatan dari batu (Zaman Batu) seperti kapak, cangkul, sabit, alat penggiling dari batu, periuk-periuk dari tembikar dll. Sekitar 4.500 SM bajak ditemukan. Bajak memungkinkan berkembangnya pertanian dan meningkatnya hasil panen. Hal ini menyebabkan jumlah penduduk meningkat tajam.

Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Legenda Hantuen

Cerita Rakyat

Legenda Hantuen menjadi Cerita Rakyat Kalimantan Tengah yang sampai saat ini masih dipercaya sebagian masyarakat disana. Kisah rakyat Kalimantan Tengah ini membuat orang takut jika pergi ke hutan pada malam hari. Pada setiap propinsi di kalimantan masing-masing memiliki Cerita Rakyat Kalimantan nya sendiri-sendiri. Misalnya pada artikel sebelumnya kami pernah memposting Kumpulan Kumpulan Cerita Rakyat dari Kalimantan terbaik yang juga masuk dalam Kategori Kumpulan Cerita Cerita Rakyat Nusantara Terbaik. Penasaran dengan Kumpulan Cerita Anak Kalimantan yang akan Kakak dongengkan malam hari ini? Ini dia kisahnya.

Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Siluman Angkes Dan Siluman Ikan Tomang

Seorang gadis cantik tampak kebingungan menapaki Bengawan Rungan. Tapih, poker pelangi apa yang lagi anda cari? jerit bapaknya. Wanita bernama Tapih itu menanggapi, Topiku Papa, topiku larut dikala saya mandi.

Mereka berdua menapaki Bengawan Rungan buat mencari topi itu. Tidak terasa, mereka sudah hingga di dusun orang sebelah, Dusun Sepang Simin. Nyatanya topi Tapih terdapat di dusun itu. Anak muda bernama Antang Taung menciptakannya.

Ayah Tapih menawarkan hadiah pada Antang Taung bagaikan perkataan dapat kasih, tetapi anak muda itu menolaknya. Bila diizinkan, aku berarti menikahi gadis Ayah, pinta Antang Taung yang jatuh cinta pada Tapih semenjak pemikiran awal. Tapih tersipu mengikuti permohonan Antang Taung itu. Kala bapaknya memohon pendapatnya, Tapih cuma menganggut sepakat. Acara perkawinan juga diselenggarakan dengan hidup.

Setelah menikah, cocok dengan adat setempat, pendamping mempelai baru harus tinggal di rumah orangtua masing- masing secara bergantian. Adat itu dirasa berat oleh Antang Taung serta Tapih sebab ekspedisi dari asal Tapih, Dusun Baras Semayang, ke Dusun Sepang Simin wajib melampaui hutan yang rimbun. Sehabis berembuk, mereka menyudahi buat membuat jalur pintas yang mengaitkan kedua dusun itu.

Masyarakat Dusun Baras Semayang serta Sepang Simin bergotong- royong membuat jalur itu. Mereka pula mendirikan pondok buat tempat melepas letih. Sesuatu hari, beberapa barang yang mereka Ietakkan di pondok itu hilang. Serta bukan sekali itu saja. Materi santapan, beras, apalagi busana pula lenyap. Sebab penasaran, masyarakat menyudahi buat menjebak sang mencolong. Mereka berbohong meninggalkan pondok, seakan berangkat bertugas, tetapi sesungguhnya mereka mengintip dari balik semak- semak. Dikala seperti itu mereka memandang seekor angkes( semacam landak) masuk ke pondok.

Mengintai Binatang Yang Menggoyang

Mereka mengintai Iebih dekat lagi. Binatang itu menggoyang- goyangkan badannya serta seketika, wusss angin berhembus amat cepat serta binatang angkes itu berganti jadi anak muda ganteng. Berbarengan, para masyarakat itu mendobrak pondok serta membekuk anak muda siluman angkes itu.

  • Ampun, jangan hukum aku. Aku akan menebus semua kesalahanku!” teriak pemuda itu.
  • Memangnya apa yang dapat anda jalani? Mengembalikan seluruh hasil curianmu? pertanyaan masyarakat.
  • Saya dapat menolong menuntaskan profesi kamu. Dalam durasi 3 hari, jalur pintas ini hendak sedia dipakai, tutur siluman angkes itu Seluruh yang muncul menganggut sepakat. Serta memanglah betul, jalur itu berakhir dalam durasi 3 hari. Antang Taung serta Tapih terpukau mengikuti informasi itu. Suami- istri itu mau mengangkut anak muda itu jadi anak mereka. Tidak dinyana ajuan itu diperoleh.

Sebagian bulan setelah itu, Tapih memiliki. Sesuatu hari, beliau mau sekali makan ikan tomang. Buat meluluskan kemauan istrinya itu, Antang Taung berangkat ke bengawan serta sukses membekuk seekor ikan tomang. Sebab tergesa- gesa kembali, justru meninggalkan ikan tomang itu di perahunya. Sedemikian itu Antang Taung mengetahui perbuatannya, beliau kembaIi ke perahunya. Tetapi betapa terkejutnya beliau, bukan ikan tomang yang beliau temui melainkan anak wanita yang menawan jelita. Dengan bahagia, Antang Taung bawa anak itu serta mengerahkannya pada Tapih.

Anak titisan ikan tomang itu nyatanya berkembang dengan kilat. Sebagian bulan saja, beliau telah menjelma jadi seseorang wanita yang menawan. Beliau jatuh cinta pada anak muda siluman angkes. Warnanya perasaan itu tidak bertampar sisi tangan. Dengan berkat dari Antang Taung serta Tapih, keduanya melakukan perkawinan. Mereka amat senang, tetapi keceriaan itu tidak bertahan lama. Tidak berapa lama sehabis lahir, anak awal mereka tewas. Ditambah lagi dengan informasi mengenai kematian anak yang dilahirkan oleh Tapih. Mereka seluruh amat berkabung.

Cocok Adat Antang Taung

Cocok adat, Antang Taung serta Tapih wajib melangsungkan 2 seremoni kematian buat kedua anak itu. Yang awal merupakan seremoni pemakaman, serta yang kedua merupakan seremoni pembakaran kerangka. Lewat kedua seremoni itu, arwahnya diyakini hendak menaiki Lewu Tatau( kayangan). Seremoni kedua, yang diucap tiwah dikira lebih berarti dari seremoni awal. Pada seremoni tiwah, arwah orang yang tewas diyakini hendak bebas dari badannya.

Siluman angkes serta siluman ikan tomang mengenali seremoni itu. Walaupun mereka merupakan siluman, mereka mau melakukan seremoni itu. Tetapi dikala makam anak mereka digali, bukan kerangka orang yang mereka dapati, melainkan kerangka binatang serta simbol. Masyarakat yang melihat peristiwa itu berbisik- bisik satu serupa lain. Sebab malu, pendamping siluman itu meninggalkan dusun serta mengembara ke hutan.

Hingga akhir hayatnya, mereka bermukim di situ serta melahirkan banyak generasi. Generasi mereka diucap hantuen. Banyak pula hantuen ini yang meninggalkan hutan serta menikah dengan orang lazim.

Dikala ini, generasi hantuen diyakini sanggup berganti bentuk jadi makhluk halus gadungan. Walaupun pada siang hari bentuk mereka merupakan orang, pada malam hari mereka hendak berganti jadi makhluk halus tanpa badan. Mereka berkeliaran mencari anak yang terkini lahir buat diisap darahnya.

Catatan akhlak dari Narasi Orang Kalimantan Tengah Babad Hantuen untukmu merupakan Jadilah diri sendiri. Jauhi kemauan buat melaksanakan haI- hal yang dicoba orang lain. Karena perihal itu belum pasti cocok untuk dirimu.